Rabu, 30 Juni 2010
Jumat, 14 Mei 2010
FORMAT PROPOSAL PERMOHONAN SENTRA PEMBERDAYAAN TANI
Kamis, 06 Mei 2010
Jalan Baru Membangun Jawa Tengah
Sebuah Catatan Awal Tahun
Oleh: Wakil Gubernur Jawa Tengah, Dra. Hj. Ristriningsih, MSi.
Lebih dari satu dekade menjadi pengabdi rakyat di dalam Pemerintahan, saya menemukan satu idiom bahwa, memakmurkan dan mensejahterakan rakyat selalu suatu hal yang sangat mudah diretorikakan, tetapi tidak mudah untuk direalisasikan. Hal tersebut semakin menebal ketika saya berada dalam posisi sebagai Wakil Gubernur Jawa Tengah. Jawa Tengah dengan penduduk terbesar kedua di Indonesia, dengan posisi di tengah pulau Jawa ini masih banyak sekali desa miskin dan tertinggal. Kita tidak hanya memerlukan program untuk memerangi kemiskinan, tetapi harus pula bisa menjamin program tersebut bisa diterapkan dan benar-benar bisa mengentaskan rakyat dari kemiskinan, untuk kemudian memakmurkannya.
Progam-program klasik yang saat ini dilakukan baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, telah terbukti kurang berhasil mencapai target memakmurkan rakyat. Dalam pandangan saya ada beberapa mind-set, sistem dan metode yang kurang tepat dalam program tersebut. Salah satu mind-set yang keliru adalah kita selalu menganggap bahwa masyarakat tertinggal –khususnya desa– sudah bernasib final sebagai keluarga miskin (gakin), sehingga kita merasa harus selalu memenuhi kebutuhan mereka –raskin, bantuan langsung tunai (BLT), askeskin, dsb. Seharusnya yang harus kita lakukan adalah bagaimana membuat masyarakat tertinggal itu menjadi sepenuhnya mandiri sehingga mereka bisa mencukupi kebutuhannya sendiri, sehingga upaya berikutnya untuk membuat mereka makmur akan lebih mudah.
Kemudian sistem anggaran pemerintah dan metode kegiatan pemberdayaan-pembangunan oleh dinas-dinas dalam pemerintahan sendiri masih kental nuansa birokratis yang sering kurang efektif, kurang sigap dan kurang efisien. Untuk merubah mind-set, sistem dan metode meskipun bisa namun sangat sulit dan menghabiskan energi, padahal rakyat yang miskin ini perlu segera ditangani. Perlu ada konsep sinergi untuk menutup keterbatasan kemampuan pemerintah tersebut. Perlu ada konsepsi jalan baru untuk membangun Jawa Tengah, yang bisa membuka keterbatasan-keterbatasan ekonomi rakyat.
Jawa Tengah mempunyai banyak modal untuk bisa bangkit, antara lain, Sumber Daya Alam (SDA) berupa tanah vulkanik yang sangat subur serta laut yang luas dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang relatif lebih maju dibandingkan dengan luar jawa. Dalam membangun jalan baru tersebut, kita tidak bisa tidak bisa mengintroduksi hal-hal yang sama sekali baru kepada masyarakat. Saya sangat sepakat dengan program Gubernur Jawa Tengah dengan Bali nDeso Mbangun Desa. Bahwa yang di-underline adalah ”Desa” adalah suatu konsep cerdas, dimana pembangunan bottom-up dari desa akan juga berdampak positif memakmurkan kota, yang apabila secara sistemik dan serentak digerakkan maka ini adalah arti sebenarnya membangun negara. Pemberdayaan desa yang berhasil memandirikan masyarakat desa dan memberikan kemampuan berwirausaha, akan membuat pusaran energi spiral-up ke atas yang semakin membesar. Sebuah energi luar biasa besar dari puluhan juta orang yang tidak pernah kita bayangkan, akan mendorong kemakmuran, kesejahteraan dan kemandirian bangsa.
Pemberdayaan tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah. Perlu pemerintah berkolaborasi dengan: (1) Para ahli (expert) yang sudah berpengalaman dan berhasil di bidang-bidang yang akan dijadikan acuan pemberdayaan, untuk menimba ilmu dan pengalaman. Misal ahli sekaligus praktisi yang sudah berhasil dibidang: perikanan air tawar, pertambakan, perikanan laut, pertanian hortikultura, peternakan sapi dan praktisi ahli pemasaran (2). Berkolaborasi dengan para pengusaha atau BUMN/BUMD yang mempunyai dana untuk Corporate Social Responbilitiy. Memakmurkan dan memandirikan desa bukan berarti menciptakan pesaing bagi pengusaha, tetapi justru ini adalah upaya meningkatkan daya beli masyarakat yang berujung pada peningkatan pendapatan perusahaan-perusahaan tersebut dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.
Pemberdayaan harus dimulai dari mengajari masyarakat dengan apa yang mereka bisa, dan sesuai dengan daerahnya, kemudian kita tajamkan dengan sentuhan pemberdayaan dan teknologi. Pendidikan rakyat tidak bisa dilakukan dalam pendidikan formal, tetapi harus melalui pendidikan aplikasi praktek di lapangan.
Dalam perjalanan mengkonstruksikan ”Jalan Baru” bagi kemakmuran Jawa Tengah, saya mendapat pencerahan dari seorang pemberdaya masyarakat desa, Budi Dharmawan, ketua Yayasan Obor Tani, adik kandung dari mantan Menko Ekuin/Ketua Bappenas, Kwik Kian Gie. Ia berkata bahwa sudah tidak jamannya lagi pemberdayaan petani dilakukan sepotong-sepotong, sebagai contoh membagi bibit kepada petani kemudian ditinggal pergi, atau bibitnya dibagi sekarang, pupuknya tahun depan. Ia juga mengkritisi metode pemberdayaan masyarakat oleh dinas-dinas di pemerintahan, bahwasanya pemberdayaan saat ini dilakukan dengan cara mengumpulkan petani, kemudian diceramahi sehari-dua hari di ruang pertemuan dinas, kota/kabupaten atau di hotel-hotel, kemudian di-sangoni untuk pulang. Atau sudah tidak tepat menurutnya petani diajak piknik sehari ke tempat-tempat agribisnis yang sudah jadi, kemudian diberi bantuan bibit atau sarana produksi tanpa pembimbingan yang intensif. Ada hal menarik yang telah dikerjakan Yayasan Obor Tani, yaitu pembangunan Sentra Pemberdayaan Tani (SPT) di desa-desa miskin dan tandus.
SPT adalah satu model Pemberdayaan masyarakat desa di bidang pertanian dalam bentuk hibah murni secara menyeluruh, masif dan terintegrasi. Dengan sasaran desa miskin dan tandus yang mempunyai kegotong-royongan kuat. Pertama di desa tersebut diberikan air untuk berbudidaya buah-buahan unggul –Lengkeng Itoh, Durian Monthong, buah naga Red Dragon, Srikaya Grand Anona, Mangga Nam Dokmai. Caranya dengan dibangunkan waduk mini tadah hujan di puncak bukit kurang luas lapangan sepakbola, bervolume 7.500-10.000 m3 sedalam 3 meter berdasarkan curah hujan rata-rata di Jawa Tengah 3.000–4.000 mm/th, kemudian diberi lapisan geomembran agar air tidak meresap ke dalam tanah. Waduk mini tersebut akan digunakan sebagai sarana irigasi dengan sistem gravitasi –tanpa listrik dan BBM, untuk mengairi kebun buah unggul untuk para petani peserta program.
Kedua, kepada 100 kepala keluarga (KK) petani peserta diberikan kebun buah unggul masing-masing 2.000 m2 dengan luas total 20 hektar. Dengan cara petani menyerahkan tanah mereka seluas maksimal 2.000 m2 dalam keadaan kosong kepada Obor Tani, kemudian selama 3,5 tahun dikelola oleh Obor Tani dari mulai pembukaan lahan, tanam, pemeliharaan, hingga menjadi kebun buah siap panen, untuk selanjutnya diserahkan kembali kepada 100 KK petani peserta program. Seluruh bibit, pupuk, obat-obatan tanaman, tenaga kerja, biaya operasional dibiayai oleh Obor Tani.
Ketiga, Pemberdayaan dilakukan selama 3,5 tahun untuk itu, di tempat tersebut dibangun pula wisma SPT untuk tempat tinggal 2 orang kader Obor Tani, kantor, asrama pemagang dari luar desa, gudang, tempat pertemuan dan tempat pembibitan. Dari 100 KK petani dipilih 20 orang untuk bekerja bersama kader Obor Tani mengelola kebun 20 hektar, sedangkan 80 KK lainnya magang di atas tanahnya sendiri-sendiri. Target pemberdayaan tersebut adalah meningkatkan pendapatan petani peserta dari tanah pertanian dari survey sebelumnya rata-rata Rp 300.000,- perbulan/KK bisa menjadi minimal Rp 1 juta per KK per 2.000 m2.
Saya percaya di tangan para ahli di bidangnya yang mempunyai dedikasi dan kredibilitas tinggi, keberhasilan program bisa menjadi kenyataan. Di Semarang, Budi Dharmawan, 74 th, mantan perwira angkatan laut jaman Bung Karno yang masih sehat dan energik, lebih dikenal sebagai aktivis sosial dan pengusaha agrobisnis yang memiliki ratusan hektar kebun cengkeh dan buah-buahan unggul. Menurutnya ide awalnya bukan Sentra Pemberdayaan Tani, tetapi Sentra Pemberdayaan Rakyat (People Development Center) bidang tani, karena masyarakat miskin tidak hanya petani, tetapi juga nelayan, petambak, pedagang, pedagang kaki-lima, perajin tahu-tempe dan lain sebagainya. Kini Yayasan Obor Tani telah memiliki 6 SPT di Jawa Tengah, yaitu: satu SPT di tahun 2008 di desa Genting, Kec. Jambu, Kab. Semarang dengan komoditas Lengkeng Itoh. Lima SPT di tahun 2009 di desa: (1). Wonokerto-Bancak-Kab. Semarang (Buah Naga); (2). Karanganyar-Musuk-Kab. Boyolali (Durian Monthong); (3). Seboro-Sadang-Kab. Kebumen (Lengkeng Itoh); (4). Lipursari-Leksono-Kab.Wonosobo (Durian Chanee); (5). Labuhan Kidul-Sluke-Kab. Rembang (Mangga Nam Dokmai). SPT di desa-desa tersebut bernilai Rp 1,5 milyar, dibiayai –urunan– oleh donatur perorangan dan perusahaan-perusahaan seperti: Marimas, Pertamina, Nutrifood, Yayasan Tirto Utomo (Aqua), Karoseri Laksana, Bank Jateng, Nusa Raya Cipta, Cengkeh Zanzibar dan donatur-donatur yang telah berhasil dihimpun. Di tahun 2010 ini direncanakan Obor Tani membangun 25 SPT di Jawa Tengah, Saya menyarankan agar para Tokoh Masyarakat, Lurah, Camat dan Bupati agar berperan aktif membantu masyarakat desa di wilayahnya, untuk mengakses hibah tersebut dengan mengajukan proposal ke kantor Obor Tani di Jl. Imam Bonjol 155 Semarang. Hingga nantinya paling tidak di satu kabupaten ada satu SPT.
Pemberdayaan secara menyeluruh (holistik) yang dilakukan Obor Tani melalui SPT adalah salah satu contoh, yang telah memberikan memberikan karya nyata untuk bisa diadopsi untuk dijadikan acuan baik oleh pemerintah maupun lembaga pemberdayaan masyarakat lainnya. Program Bali nDeso Mbangun Desa tidak akan berhasil kalau dilaksanakan secara sektoral (terpisah-pisah) tapi harus terintegrasi (integrated) utuh-menyeluruh. Tidak bisa jika bentuk kegiatannya masih pola lama tetapi diberi ”label” Mbangun Desa.
Dengan keunggulan komparatif Jawa Tengah berupa: tanah vulkanik yang subur, iklim tropis dengan matahari sepanjang tahun dan curah hujan yang melimpah, kemudia tiga hal tersebut disatukan dengan teknologi pertanian modern dan sumberdaya manusia yang kompeten, maka pertanian sebagai pilihan utama primary product, akan mampu menjadi pilar utama untuk menyejahterakan masyarakat Jawa Tengah. Karena jika bertani dengan cara konvensional, petani hanya akan mendapatkan hasil 20% dari keseluruhan potensi tanah yang digarapnya. Dengan sentuhan teknologi modern dan bimbingan intensif dari para ahli pertanian pendapatan tersebut akan meningkat 5 kali lipat. Ini adalah potensi yang luar biasa bagi masyarakat desa.
Membangun Desa, Petani dan Pertanian adalah ”Jalan Baru” yang akan menjawab tantangan terbesar yaitu mengalahkan kemiskinan di Jawa Tengah, karena: (1).Populasi petani dan keluarganya merupakan populasi terbesar dengan kemiskinan yang juga terbesar. (2).Dengan membangun dan memakmurkan desa –infrastruktur, suprastruktur, diklat dan sarana produksi, akan memberikan efek De-urbanisasi, dimana orang-orang dari kota akan mengalir ke desa dengan adanya peluang kerja di desa. Ini berarti kota lebih mudah diatur, tidak macet, tidak sumpek, kriminalitas menurun, permintaan barang-barang kebutuhan –baik pokok, sekunder maupun tersier– dari desa ke kota semakin banyak, ini berarti roda perekonomian desa dan kota berputar dengan cepat. Deso dadi rejo, Kutho tambah mulyo (Desa jadi makmur, kota bertambah mulia/sejahtera). (3) Membangun desa berarti: Mengentaskan KEMISKINAN, Mengurangi PENGANGGURAN, Melestarikan LINGKUNGAN, Memanfaatkan LAHAN TERLANTAR, Mengembalikan HARGA DIRI PETANI !
Akhir kata, saya mendapatkan kata-kata menarik dari Rektor Baru –yang masih muda– Universitas Katholik Soegijapranata (UNIKA) Semarang, Prof. Budi Widianarko, yang ia kutip dari “The World is Flat” – Thomas L. Friedman (2006)?, seperti ini:
Setiap pagi di Afrika, seekor rusa bangun.
Dia tahu dia harus lari lebih cepat dari singa yang tercepat atau dia akan dimangsa.
Setiap pagi seekor singa bangun.
Dia tahu dia harus mendahului rusa yang berlari paling lambat atau dia akan mati kelaparan.
Tidak penting apakah anda seekor singa atau seekor rusa.
Begitu matahari terbit, anda lebih baik segera berlari.
Dengan adanya globalisasi, nantinya semua kepentingan ekonomi dan bangsa-bangsa dari seluruh penjuru dunia akan masuk ke Jawa Tengah dan Indonesia. Pada saat itu saya ingin rakyat Jawa Tengah, tak peduli ia memilih hidup sebagai “singa” atau “rusa”, ia harus sudah kuat dan mandiri, agar tidak akan menjadi “mangsa” bagi bangsa lain atau “mati kelaparan”. (Rustriningsih)
Catatan penulis: Idiom Rusa itu untuk mewakili wirausaha atau industri kecil-menengah kreatif yang ramping, gesit, lincah dan energik yang harus terus lari dengan menemukan ide-ide baru atau ditiru/disaingi (dimangsa) perusahaan besar (Singa). Sedang idiom Singa mewakili perusahaan besar, dengan kapital besar, SDM melimpah, postur raksasa, tapi juga bisa mati kelaparan kalau pendapatannya menurun (Rustriningsih).
*pernah dimuat di koran Suara Merdeka, 07 Januari 2010
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/01/07/94164/Jalan.Baru.Membangun.Jateng.
Rabu, 05 Mei 2010
Youth Exchange Program - Stranger No More
Youth Exchange Program - Stranger No More
Oleh MC. Sukma Irmanda, STP
Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 06 Agustus 2009. Program ini merupakan hasil kerjasama antara 3 negara, yaitu Belanda, Tanzania, dan Indonesia. Program tersebut didasarkan pada tiga pilar yang sama: belajar bersama, merayakan kehidupan bersama-sama dan bekerja bersama. Program ini juga tentang membuat impian menjadi kenyataan, karya misi, membangun persahabatan, perjalanan dan berbagi iman.
Kunjungan Mahasiswa dari Tanzania dan Belanda di Desa Genting, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, melalui Youth Exchange Program yang membahas masalah “Global Warming”. Pemanasan global atau Global Warming adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.
Program Sentra Pemberdayaan Tani merupakan salah satu solusi untuk mengatasi “Global Warming” karena melalui program ini, kita dapat menghilangkan karbon dioksida di udara dengan cara memelihara pepohonan dan menanam pohon buah lebih banyak lagi. Pohon, terutama yang muda dan cepat pertumbuhannya, menyerap karbon dioksida yang sangat banyak, memecahnya melalui fotosintesis, dan menyimpan karbon dalam kayunya. Pohon buah yang ditanam melalui Program Sentra Pemberdayaan Tani adalah lengkeng varietas Itoh.
Selain itu, waduk mini yang dibangun melalui Program Sentra Pemberdayaan Tani dapat digunakan sebagai contoh untuk menangani kekurangan air selama musim kemarau terutama membantu mangelola air pada daerah yang rawan kekeringan. Semakin tinggi pohon yang ditanam, maka akar akan semakin dalam dan akan semakin banyak menyimpan air. Pohon dan waduk ini akan meningkatkan jumlah air dalam tanah dan mengurangi resiko kebanjiran atau tanah longsor.
Selasa, 04 Mei 2010
PROGRAM MAGANG TANI I-B WONOSOBO
PROGRAM MAGANG TANI I-B
Desa Mergosari, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Wonosobo
Oleh : MC. Sukma Irmanda, STP
Yayasan Tirto Utomo yang dipimpin oleh Ibu Lisa Tirto Utomo mengamati kondisi pertanian Indonesia saat ini. Tanah terlantar dimana-mana, sebanyak 103 juta petani di desa dilanda kemiskinan, dan banjir produk agro impor di supermarket dan pasar tradisional. Padahal alam Indonesia mempunyai keunggulan komparatif dibidang pertanian dibandingkan negara-negara lain berupa lahan yang subur, curah hujan yang tinggi, air melimpah, iklim tropis yang hanya mengenal dua musim. Namun belum ada kebijakan dan penanganan yang baik dan benar, yang mampu memberdayakan produk pertanian di Indonesia. Dasar pemikiran inilah yang menggugah Yayasan Tirto Utomo untuk bekerja sama dengan Yayasan Obor Tani dalam proses pemberdayaan produk pertanian di Indonesia melalui Program Magang Tani I-B. Dana yang dikeluarkan oleh Yayasan Tirto Utomo tidak tanggung-tanggung, sebanyak Rp. 87.525.000,- dihibahkan untuk membantu meningkatkan kompetensi petani dalam budidaya tanaman semusim.
Program tersebut di mulai pada tanggal 21 Januari 2007 sampai 1 Mei 2007. Namun mulai resmi dibuka oleh Bupati Wonosobo, Bp. Kholif Arief, pada 22 Februari 2007, dan diikuti oleh 15 peserta yang berasal dari 9 kecamatan di Wonosobo. Para pemagang didampingi oleh 4 alumni program magang tani I-A (Lihat tabel). Pada peresmian magang tani ini hadir juga pengurus Yabortan, mahasiswa KKN Unsoed dan tamu undangan. Para pemagang dihari yang sama, juga digembleng mentalnya oleh Gus Fadlun, selaku ulama Ponpes Tambihulhofilin, Kepil. Sebelum program magang dimulai dilakukan survei lahan yang dilaksanakan pada 9 Desember 2006 di desa Krasak, Kecamatan Mojotengah-Wonosobo dan desa Mergosari, Kecamatan Sukoharjo-Wonosobo, bersama dengan staf Obor Tani dan staf Tirto Utomo. Lahan 1,7 hektar di desa Mergosari, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Wonosobo akhirnya ditetapkan sebagai lahan program magang tani.
Para pemagang diajarkan untuk memberdayakan komoditas melon dengan 3 varietas selama 4 bulan. Melon sebagai tanaman semusim sengaja dipilih karena melon dapat tumbuh didataran rendah sampai tinggi. Selain itu lahan yang digunakan pada program magang tani ini merupakan lahan bekas padi yang memiliki sumber air dan dekat dengan jalan raya. Lahan tersebut sangat cocok jika digunakan untuk pembudidayaan melon. Penanaman melon dibagi menjadi 3 tahap sesuai dengan varietas yang dipilih.
Pada penanaman tahap I, penyemaian benih dimulai pada 26 Februari 2007 dan akan dilanjutkan dengan pemindahan tanam, pertumbuhan fase vegetatif dan generatif sampai akhirnya panen. Semua berjalan normal sesuai dengan kurikulum program pelatihan tani yang dicanangkan hingga awal pertumbuhan fase generatif. Pada awal pertumbuhan fase generatif ini, melon sangat rawan terserang penyakit. Pada pertengahan Mei 2007 hal yang tidak diperkirakan terjadi, tanaman padi yang terletak dekat dengan lahan pelatihan terkena bercak daun sehingga tidak bisa panen, mendung dan kabut terus-menerus turun setiap malam, hal ini menyebabkan 80% daun melon yang 10 hari lagi akan dipanen ikut terserang bercak-bercak kuning. Setelah diteliti bercak kuning tersebut diakibatkan oleh jamur Didymella bryoniae dan penyebaran jamur dipercepat oleh adanya kabut.
Tim instruktur segera berupaya untuk menghentikan pertumbuhan jamur dengan mengaplikasikan penanganan hama dan penyakit dengan menyemprot Amistartop, hasilnya jamur berhasil dilumpuhkan hingga tidak meluas. Namun minggu-minggu berikutnya matahari tak kunjung muncul, padahal tanaman membutuhkan sinar matahari untuk memulihkan kondisi dan memperkuat pertahanan tubuh. Akibatnya kondisi tanaman semakin memburuk ditambah dengan kondisi kelembaban tinggi memunculkan serangan jamur varietas lain. Saat masa panen tiba, tanaman sudah layu, kadar gula yang disyaratkan minimal 10 % tidak bisa dicapai. Akibatnya melon yang dipanen tidak laku dijual karena kadar gulanya hanya 4-5 %. Hal ini juga berimbas pada tanaman muda yang ditanam pada tahap kedua, karena tanaman ikut layu dan mengering karena serangan jamur secara menyeluruh.
| PESERTA PROGRAM MAGANG TANI I-B WONOSOBO | |||
| Diikuti 15 peserta. Berasal dari 9 kecamatan di Wonosobo : | |||
| Kecamatan Garung | : 2 orang | Kecamatan Leksono | : 1 orang |
| Kecamatan Kepil | : 2 orang | Kecamatan Sukoharjo | : 2 orang |
| Kecamatan Sapuran | : 1 orang | Kecamatan Kaliwiro | : 2 orang |
| Kecamatan Selomerto | : 1 orang | Kecamatan Kalibawang | : 1 orang |
| Kecamatan Watumalang | : 3 orang | ||
| Didampingi 4 alumni dari Program Magang Tani I-A | |||
| Instruktur | : - M.Suyuti | Asisten Instruktur | : - Dwi Rahayu |
| - Arif Subiyanto | - Eko Puji Rahayu | ||
| KOMODITAS | |||
| Melon | |||
| -Varietas New Century | Periode Tanam I | 7.125 pohon | |
| -Varietas Apollo | Periode Tanam II | 5.250 pohon | |
| -Varietas Honey Globe | Periode Tanam III | 5.000 pohon | |
| REALISASI BIAYA PELATIHAN | |||
| a. Dana dr Yayasan Tirto Utomo | Rp. 87.525.000,- | ||
| b. Total Biaya Pelatihan | Rp. 60.131.500,- | ||
| c. Saldo kas pelatihan yang dikembalikan kepada Yayasan Tirto Utomo | Rp. 27.393.500,- | ||
| YUDISIUM | |||
| Dari 15 pemagang yang mengikuti Program Magang Tani I-B Wonosobo : | |||
| 1 pemagang mengundurkan diri | |||
| 2 pemagang tidak lulus | |||
| 12 pemagang lulus dengan predikat : | |||
| 4 (empat) pemagang lulus dengan predikat Baik Sekali | |||
| 6 (enam) pemagang lulus dengan predikat Baik | |||
| 2 (dua) pemagang lulus dengan predikat Cukup | |||
Pada yudisium Program Magang Tani I-B di Wonosobo ini tidak semua pemagang lulus, 1 orang pemagang mengundurkan diri, 2 pemagang tidak lulus, dan 12 pemagang lulus (Lihat tabel). Karena kegagalan penanaman tahap I dan II, maka penanaman tahap III yang semula direncanakan melon varietas Honey Globe, diganti dengan semangka. Meskipun secara keseluruhan, program pelatihan petani tersebut berjalan sesuai dengan kurikulum dan target peningkatan kompetensi petani dalam budidaya tanaman semusim dapat terpenuhi. Program magang tani ini ditutup oleh Sekretaris FKB, DPRD Wonosobo, Bp. Arief KFC pada 26 Juni 2007. Program ini didukung oleh IBANA selaku jaring pemasaran yang disediakan Yayasan Obor Tani, CHAMPION salah satu distributor pupuk, KNOWN YOU SEED selaku penyedia benih dalam program magang tani ini dan KMBPI (Kaum Muda Baru Petani Indonesia).
MARI CIPTAKAN PELUANG USAHA BARU MELALUI PRODUK PERTANIAN INDONESIA
PROGRAM MAGANG TANI I-B DAN I-C WONOKERTO
PROGRAM MAGANG TANI I-B DAN I-C
Desa Wonokerto, Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang
Oleh MC. Sukma Irmanda, STP
Pertanian Hortikultura Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang sangat terpuruk, karena buah-buah impor telah membanjiri supermarket dan kios-kios buah di pinggir jalan. Kondisi inilah yang menggugah Yayasan Obor Tani yang dimotori oleh Bp. Budi Dharmawan dan Bp. Harjanto Halim sebagai Dirut PT. Ulam Tiba Halim untuk bekerja sama, melakukan perubahan kecil yang dapat mengangkat kemakmuran dan harga diri petani. Perubahan kecil ini dilakukan dengan membuat program magang tani I-B dan I-C di Desa Wonokerto, Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang.
Desa Wonokerto sengaja dipilih untuk pelaksanaan program magang tani ini, karena kondisi tanah yang keras dan sumber air yang sangat terbatas akan menjadi tantangan bagi peserta magang. Selain itu komoditas yang diberdayakan pada program magang tani ini adalah melon dan semangka. Varietas melon yang dikembangkan yaitu Honey Globe dan Apollo. Telah kita ketahui bahwa pembudidayaan melon lebih sulit jika dibandingkan dengan pembudidayaan buah-buahan lainnya dan melon sangat mudah terkena penyakit, hal ini juga akan menjadi tantangan khusus bagi para peserta magang.
Program ini telah diresmikan pada tanggal 1 Juli 2007 oleh Bp. Ali Mufiz, Gubernur Jateng saat itu dan dihadiri oleh Bp. Gatot Aji Sutopo selaku Ketua HKTI Jateng, Bp. Budi Dharmawan (Ketua Dewan Pengurus Harian Yayasan Obor Tani), Bp & Ibu Ismangoen Notosapoetro (Ketua Dewan Pembina Yayasan Obor Tani), dan Bupati Semarang Siti Ambar Fatonah. Dana sebesar Rp. 91.265.533,- juga telah dikucurkan oleh PT. Ulam Tiba Halim untuk mendukung pelaksanaan ”Penggemblengan Kaum Muda BARU Petani Indonesia se Nusantara”.
Program magang tani ini juga dimaksudkan agar para generasi muda desa tidak berbondong-bondong meninggalkan desanya menuju kota namun kembali membangun desanya. Oleh karena itu pemagang tidak dipungut biaya apapun. Dana dan akomodasi pemagang menjadi tanggung jawab penuh Yayasan Obor Tani. Para pemagang juga akan diberi sertifikat kelulusan program magang yang menyatakan bahwa pemagang memiliki kompetensi dalam bidang Pedederan-Penanaman-Pemeliharaan-Pengendalian Hama dan Penyakit-Panen-Pasca Panen dan Pemasaran Komoditas melon dan semangka berstandar Internasional.
| PESERTA PROGRAM MAGANG TANI | |||
| a. Program I-B kelompok I | 3 orang masyarakat setempat | ||
| b. Program I-B kelompok II | 11 orang petani muda | ||
| Terdiri dari : | |||
| - Jombang, JATIM | 1 orang | ||
| - Samarinda, KALTIM | 1 orang | ||
| - Cianjur, JABAR | 1 orang | ||
| - Batanghari, LAMPUNG | 1 orang | ||
| - Gorontalo, SULAWESI | 1 orang | ||
| - JAWA TENGAH | 12 orang (Kab. Kendal 1 org, Kodia Salatiga 1 org, Kab. Semarang 9 org, Kab. Karanganyar 1 org) | ||
| c. Program I-C | 2 orang petani alumni magang tani IA | ||
| KOMODITAS | |||
| a. Melon | |||
| -Varietas Honey Globe | Periode Tanam I | 7.512 pohon | |
| -Varietas Apollo | Periode Tanam II | 7.731 pohon | |
| b. Semangka | Periode Tanam III | 1.470 pohon | |
| REALISASI BIAYA PELATIHAN | |||
| a. Modal Penyangga dr PT.Ulam Tiba Halim | Rp. 91.265.533,- | ||
| b. -Total Biaya Pelatihan | Rp. 87.988.868,- | ||
| -Surplus yang diberikan Pemagang ke Yabortan | Rp. 10.438.913,- | ||
| c. Hasil Penjualan Buah | Rp. 70.271.000,- | ||
| d. Modal Penyangga yang dikembalikan kepada Sponsor (PT.Ulam Tiba Halim) | |||
| 1. Saldo di Bank Maspion | Rp. 11.912.465,- | ||
| 2. Dipinjamkan untuk modal wirausaha (I-C) | Rp. 46.025.000,- | ||
| 3. Penjualan alat dan sisa bahan program I-B | Rp. 5.153.120,- | ||
| * Poin 2&3 sudah dikembalikan kepada PT.Ulam Tiba Halim (12 Februari 2008) | |||
| Total modal yang dikembalikan kepada PT.Ulam Tiba Halim | Rp. 63.090.585,- | ||
| Dan dua pack benih melon New Century (Hamigua) senilai @100 gr, senilai | Rp. 2.732.400,- | ||
| PEMAGANG PERAIH SURPLUS | |||
| Program I-B Wonokerto | |||
| a. Kozin | Rp. 2.442.044,- | ||
| b. Mukanan | Rp. 1.694.411,- | ||
| c. Jarkasi | Rp. 705.017,- | ||
| d. Arwani | Rp. 118.338,- | ||
| e. Kamidi | Rp. 195.786,- | ||
| Jumlah | Rp. 5.155.596,- | ||
| SHU tersebut dibagi 2 antara Yabortan dan Pemagang | |||
| Program I-C Wonokerto | |||
| a. M. Arifin | Rp. 5.283.317,- | ||
| SHU tersebut diserahkan sepenuhnya kepada pemagang | |||
Sebelum program magang dimulai maka dilakukan survei lahan untuk mengetahui kompetensi dan batas-batas lahan yang akan dipakai selama pelatihan. Para pemagang akan tinggal bersama dalam asrama selama + 4 bulan, dimulai pada tanggal 31 Mei 2007 s/d tanggal 23 September 2007. Program ini diikuti oleh 17 peserta (Lihat Tabel). Selama 4 bulan dilakukan 3 tahapan penanaman pada lahan seluas 15.000 m2 (Lihat Tabel) dan penyiraman tanaman diusahakan melalui sungai yang berjarak 20 meter dari lahan pelatihan yang airnya akan diangkat dengan pompa air diesel.
Para pemagang diajarkan untuk mempersiapkan lahan, membuat bedengan (gundukan untuk membuat lubang tanam), menutup bedeng dengan mulsa, memberi pupuk dasar, dan menambah dolomit, serta membuat ajir (lanjaran). Selain itu juga diajarkan menyemai benih dan mengatasi jamur serta hama penyakit selama pertumbuhan fase vegetatif dan generatif. Pada fase ini penyakit mulai menyerang tanaman melon. Penyakit yang banyak tumbuh adalah serangan jamur Downy Mildew, hama ulat Plutella, ulat Spodoptera, Oret-oret, Thrips, Aphid, dan Kutu Putih. Para pemagang juga diajarkan untuk menyeleksi buah agar sesuai dengan gradenya. Pada akhirnya pemagang juga diajarkan cara pemanenan buah yang tepat agar buah tidak mudah busuk dalam penanganan pasca panen serta cara pemasaran yang efektif dan efisien.
Pada panen perdana tanggal 20 Agustus 2007 diadakan tasyakuran yang dihadiri oleh Bp.Bibit Waluyo, aparat, LSM, birokrat, kelompok tani dan tokoh nasional. Hasil panen pun langsung dipamerkan di bazaar pada acara Tasyakuran panen perdana. Pada 22 November 2007 manager MURI Paulus Pangka menyerahkan sertifikat pengukuhan Melon Honey Globe terberat di Indonesia 4,26 Kg kepada Ketua DPH Yayasan Obor Tani dan Arwani selaku wakil petani Wonokerto. Hasil panen melon ini kemudian dilelangkan dan melon terberat dimenangkan oleh ibu Liliana Tedjosaputro dengan harga 8 juta Rupiah. Sedangkan dua butir Honey Globe terberat kedua dmenangkan oleh Bp. Harjanto Halim seharga 6 juta Rupiah. Tiga butir melon terberat ketiga dimenangkan oleh koalisi Bp. Harjanto Halim, Bp. Budi Dharmawan, Bp. Arwin, Bp. Solichedi, Bp. Ali Mufiz, Bp. Sukawi Sutarip, dan Bp. Hertoto Basuki dengan harga 28 juta Rupiah.
Program magang tani ini memberikan hasil yang sungguh mencengangkan. Pola I-B Wonokerto ini terbukti berhasil mencapai kualitas dan kuantitas panen tertinggi + 12 ton/ha bahkan mungkin mencapai angka 15 ton/ha jika populasi dalam 1 ha tidak ada gangguan apapun. Hasil panen ini mencapai 80 % total panen populasi dengan tingkat pengembalian modal sebesar Rp. 65.822.985,- dari modal awal Rp. 91.265.533,- atau 72,12% (Lihat Tabel). Pada magang tani I-B dan I-C ini terdapat 6 (enam) pemagang yang meraih surplus (Lihat Tabel). Sesuai dengan ketentuan pemagang, jika hasil surplus (untung) maka hasil tersebut dibagi dua antara Yayasan Obor Tani dan Pemagang dengan prosentase 50 % : 50 %. Namun jika hasil defisit (rugi) maka kerugian tersebut 100 % ditanggung Yayasan Obor Tani. Program ini didukung oleh IBANA selaku jaring pemasaran yang disediakan Yayasan Obor Tani, CHAMPION salah satu distributor pupuk, dan KNOWN YOU SEED selaku penyedia benih dalam program magang tani ini.
MARI BANGKITKAN KEMBALI KEJAYAAN PERTANIAN HORTIKULTURA DI INDONESIA.
Senin, 03 Mei 2010
Merubah Desa Sengon Menjadi Desa Lengkeng
Desa Genting, Kec. Jambu, Kab. Semarang JAWA TENGAH, menjadi desa pertama yang mendapat donasi Rp 1,4 milyar untuk dibangunkan satu buah SPT. Desa yang dulunya penuh dengan sengon ini kini memasuki tahun ke-2 untuk dirubah menjadi Desa Lengkeng, lengkap dengan agrowisatanya. Berikut laporan pencapaian program SPT Genting:
Hal 1
Hal. 2.
Hal. 3.
Selasa, 08 Desember 2009
Ekonomi Petani "Ndeso" Budi Dharmawan
Budi Dharmawan tak sekadar berwacana. Bersama rekan-rekannya yang tergabung dalam Yayasan Obor Tani, dia sudah menunjukkannya dengan membangun embung buatan di Desa Genting, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.
Beberapa tokoh yang berkunjung, seperti mantan Gubernur Jakarta Sutiyoso, Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo, dan Wakil Gubernur Jawa Tengah Rustriningsih, menyuarakan kekagumannya.
Embung di puncak bukit itu memiliki volume 8.000 meter kubik. Adapun di lahan sekitar 20 hektar yang mengelilingi embung tersebut tertanam sekitar 4.000 batang pohon kelengkeng itoh. Ada sekitar 120 keluarga pemilik yang mengurus lahan itu. Saat musim kemarau seperti saat ini tanaman itu dengan mudah mendapat air hasil ”menabung” selama musim hujan.
Padahal, sebelum dibangun embung pada Juli 2008, bukit tersebut tandus. Warga hanya memanfaatkan lahan untuk menanam singkong atau pisang. Hasilnya tak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Sebagian besar pemuda desa kemudian menjadi buruh penebang pohon atau merantau sebagai kuli bangunan dan buruh pabrik.
Kini sebagian dari mereka kembali ke desa untuk mengolah lahan. Setiap pekerjaan yang mereka lakukan mendapat upah, yang jumlahnya bervariasi, dari Rp 10.000 hingga Rp 15.000 per hari.
Selama tiga tahun warga mendapat pendampingan dari Yayasan Obor Tani. Mereka baru ”dilepas” setelah memiliki jaringan pasar dan para petani bisa mendapat penghasilan bersih lebih dari Rp 1 juta per bulan.
Untuk mewujudkan hal itu, adik ekonom Kwik Kian Gie yang juga sering dipanggil Kwik Kian Djin ini mengumpulkan dana sekitar Rp 1 miliar dari sejumlah pengusaha kenalannya. Dana itu digunakan untuk membuat waduk dan program pengembangan sentra kelengkeng di Genting. Sampai kelengkeng bisa berbuah pada tahun ketiga diperlukan dana Rp 1,5 miliar.
”Kalau nombok, itu memang harus ada supaya kegiatan bisa berjalan,” tutur Budi dalam perbincangan di Hortimart, perkebunan buah miliknya di Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, pekan lalu.
Budi mengaku sengaja memilih buah sebagai komoditas yang didorong karena merasa produk ini paling memungkinkan para petani memiliki penghasilan mencukupi. Apabila memilih pertanian pangan, petani hanya bisa sekadar hidup karena berhadapan dengan pemerintah yang berupaya menekan harga pangan.
Sementara itu, bila memilih komoditas pertanian industri, menurut dia, petani akan tetap hidup seadanya, sedangkan perusahaan terus bertambah kaya.
Pertanian tegalan
Awalnya Budi menggagas pembentukan Yayasan Obor Tani pada tahun 2006. Menelurkan program pemberdayaan ini tak lepas dari keprihatinannya menyaksikan kondisi petani tegalan di pedesaan.
Selama ini pemerintah memberi porsi besar untuk pertanian sawah. Begitu banyak waduk raksasa dibuat. Namun, sebaliknya dengan pertanian tegalan. Para petani tegalan tidak terlatih untuk menghasilkan produk, baik secara kuantitas maupun kualitas.
”Hal lain yang membuat miris adalah banyak sekali buah-buahan impor di Indonesia. Bahkan buah impor itu sudah merambah hingga kota-kota kecamatan. Apakah kita tidak bisa menghasilkan buah berkualitas? Bisa! Iklim mendukung, curah hujan mencukupi, tanah kita juga subur,” tuturnya.
Dia memimpikan, dengan pola pengembangan satu sentra buah di satu desa, buah-buah lokal yang berkualitas bisa kembali berjaya. Tentu hal ini juga memberi pekerjaan bagi penduduk desa dan meningkatkan daya beli mereka.
Oleh karena itu, Budi berupaya menggapai impiannya itu dengan mengajak perusahaan yang berhasil untuk membantu orang-orang desa.
”Bangsa Indonesia itu dibangun atas dasar rasa kekeluargaan dan senasib sepenanggungan. Bukan atas dasar suku, agama, atau golongan. Ada banyak pengusaha kaya, tetapi banyak juga masyarakat desa yang miskin. Tak ada salahnya mereka yang kaya membantu yang miskin. Kalau daya beli masyarakat desa naik, tentu perusahaan dapat manfaat juga,” tutur Budi.
Pola pikir Budi tersebut kerap dipertanyakan kakaknya, Kwik Kian Gie. Meski memiliki tujuan akhir yang sama, mereka memilih jalan berbeda. Kwik Kian Gie mencoba memperbaiki kondisi bangsa dengan masuk ke pusat kekuasaan, tetapi, kata Budi, kakaknya seperti memegang sakelar dan ingin menghidupkan rangkaian lampu yang ternyata rusak. Sulit dilakukan.
Dia sendiri mengibaratkan tindakannya itu seperti memperbaiki dan menghidupkan satu rangkaian lampu. Dengan harapan, setelah lampu ini menyala akan banyak yang turut melakukan hal serupa.
Budi mengaku tidak punya keinginan terselubung. Dia merasa sudah menjadi pengusaha sukses. Selama menjalankan program ini dia juga mengaku tidak pernah merasa kecewa. Apa sebabnya?
”Ini karena saya menganggap semua itu dilakukan untuk diri saya sendiri, bukan orang lain. Ini untuk memenuhi impian saya sehingga saya tidak akan menyesal,” tutur laki-laki yang sempat mengabdi sebagai perwira Angkatan Laut itu.
Hal itu pula yang membuat dia tidak ambil pusing dengan berbagai kendala yang dihadapi. Termasuk saat program di Desa Genting tersebut nyaris terhambat karena ada pejabat di Kabupaten Semarang yang berjanji memberi bantuan pipa paralon untuk jaringan penyiraman tanaman. Berbulan-bulan janji tinggal janji. Budi yang mengetahui bahwa stafnya menunggu perwujudan janji tersebut langsung meminta pipa paralon segera dibeli, tanpa menunggu janji yang belum jelas itu.
Dia berharap, apa yang dilakukannya, meski kecil, bisa disambut banyak pihak. Hingga akhirnya percikan impian itu bisa betul-betul terwujud dan masyarakat desa mandiri. Bukankah kemakmuran desa juga berarti kemakmuran bagi kota dan akhirnya kemakmuran bagi bangsa? (Antony Lee)
Biodata
• Nama: Budi Dharmawan atau Kwik Kian Djin • Lahir: Juwana, Pati, 26 November 1936 • Istri: Indrasari Tjokrodjojo (71) • Anak: - Angki Lestari Dharmawan (45) - Lisa Ambarwati Dharmawan (43) - Arya Budi Dharmawan (41) • Pendidikan: - Sarjana Teknik Mesin ITB, 1961 - Sarjana Muda Administrasi Niaga Unpad, 1961 • Pekerjaan: Direktur Utama PT Cengkeh Zanzibar • Organisasi: - Ketua Umum Yayasan Obor Tani - Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Kadin Jawa Tengah - Ketua Pengurus Yayasan Pembina Pendidikan 17 Agustus 1945, Semarang - Ketua Dewan Pertimbangan Yayasan Pendidikan Karangturi Semarang - Ketua Umum Yayasan Dana Olahraga Jawa Tengah.
Rabu, 15 Juli 2009
Meneg BUMN Sofyan Djalil Salurkan CSR Pertamina dan PLN untuk Sentra Pemberdayaan Tani
Corporate Social Responsibilitiy (CSR) saat ini telah menjadi kesadaran setiap perusahaan di Indonesia. CSR dapat diartikan sebagai tanggung jawab sosial perusahaan, adalah suatu komitmen yang berkelanjutan dari suatu perusahaan untuk berperilaku etis dan berkontribusi secara positif kepada karyawannya, komunitas dan lingkungan sekitarnya, serta masyarakat luas.
Masih tingginya kemiskinan di Indonesia, terutama di pedesaan, dimana mayoritas penduduk miskin tersebut adalah para petani. Kenyataan itulah yang menjadi agenda Menteri Negara BUMN, Sofyan Djalil, pada Minggu, 5 Juli 2009, untuk berdiskusi dengan para pengurus Yayasan Obor Tani di Agrowisata Buah Unggul Plantera-Kab. Kendal. Pertemuan tersebut ditujukan untuk memberikan prespektif alternatif Badan-badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang akan memberikan CSR di bidang pertanian. CSR dapat dipergunakan untuk mempertipis gap kemiskinan dan kesenjangan sosial di dalam masyarakat.
Jumat, 10 Juli 2009
Memakmurkan Desa dengan Sentra Pemberdayaan Tani
Sentra Pemberdayaan Tani adalah sebuah model pemberdayaan tani secara utuh, yang dilakukan oleh Yayasan Obor Tani dengan memberikan hibah murni untuk desa senilai Rp 1,4 milyar. Di desa tersebut dibangun Sentra Pemberdayaan Tani, termasuk didalamnya waduk ini tadah hujan, kebun buah seluas 20 hektar, kebun pembibitan, asrama untuk pusat pemagangan petani, lengkap dengan Supply Center, Training Center dan Riset Center.
Rabu, 27 Mei 2009
Rekor! Durian Monthong Terberat di Indonesia: 13,8 Kg!
KENDAL-Tanah di Indonesia benar-benar subur. Jika dikelola dengan baik, maka bisa menghasilkan produk pertanian yang berkualitas tinggi. Salah satunya telah dibuktikan oleh PT. Cengkeh Zanzibar. Bersama kelompok petani binaannya di kebun durian Montong Desa Kalisidi Kabupaten Semarang, telah dihasilkan durian yang mungkin terberat di Indonesia.
Dipanen Durian Monthong Raksasa Indonesia: 13,8 Kg
Ukuran tak lazim varietas legendaris durian monthong asal Thailand baru saja berhasil dipanen di Plantera kebun buah Kalisidi Kecamatan Gunungpati Semarang. Tak tanggung-tanggung, komoditas buah yang memiliki produktivitas serta keawetan tinggi ini memiliki bobot 13,8 kilogram dengan lima juring. Berat ini tentu saja diatas rata-rata monthong normal yang kisarannya hanya 4-5 kg. Bahkan dari plantera milik pengusaha perkebunan Budi Darmawan ini, varietas monthong berukuran di atas standar paling hanya berbobot 11 kg, 9 kg, atau 7 kg.
Minggu, 12 April 2009
Melon Apollo dari Patebon Masuk MURI
Melon hasil kebun Ir Harsono Enggal Harjo, salah seorang donatur Yayasan Obor Tani, menciptakan rekor buah melon Apollo terberat di Indonesia, dengan support teknis dari Yayasan Obor Tani. Melon jenis Apollo yang ditanam di kebun buah di Dusun Soponyono, Desa Wonosari, Kecamatan Patebon, Kendal ini setelah ditimbang diketahui mempunyai berat 4,37 kg. Rekor ini melengkapi rekor melon Honey Globe terberat sebelumnya yakni 4,25 kg yang ditanam petani binaan Yayasan Obor Tani di Wonokerto Bancak, Kab. Semarang, yang rekornya tercatat pada 27 November 2007. Baik Apollo maupun Honey Globe adalah sama-sama melon ekslusif jenis baru yang berkulit halus tanpa jala (net). Kalau Apollo berkulit kuning, Honey Globe ber kulit hijau.
Rekor Obor Tani, Melon Honey Globe 4,26 Kg
Petani desa binaan Yayasan Obor Tani yang sebagian besar kader-kader muda di Desa Wonokerto, Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang berhasil membudidayakan melon dari varietas Honey Globe hingga mencapai berat 4,26 kilogram per buahnya. Tidak hanya ratusan bahkan ribuan buah melon yang beratnya rata-rata di atas 3 kg ini, menjadi melon paling berat dan besar yang pernah ditanam dan tumbuh di tanah Indonesia.
Jumat, 27 Maret 2009
Waduk Mini Penyelamat Ladang Petani
Oleh: Pratomo, SP *)
Air adalah salah satu faktor penentu keberhasilan pertanian. Tanpa air, jangan berharap tanaman bisa tumbuh apalagi panen. Problematika air pada musim kemarau di Indonesia khususnya Jawa Tengah sampai dengan jaman "Bali Deso Mbangun Desa" saat ini belum juga terselesaikan. Seperti cerita tantangan Columbus -pengeliling dunia- tentang bagaimana cara membuat telur rebus bisa berdiri, masalah air ini sebenarnya juga mudah kalau sudah tahu caranya. Jawabannya adalah dengan membangun waduk mini.
_________________
Hidram, Pompa Air tanpa Listrik dan BBM
Oleh: Pratomo, SP *)
Baru-baru ini ada iklan bantuan instalasi air bersih dan pompa air di Nusa Tenggara Timur dari program Corporate Social Responsibility (CSR) sebuah produsen air mineral ternama. Tampak seseorang memukul pemberat klep untuk menghidupkan pompa air. Itulah pompa hidram sebuah teknologi pompa air tanpa listrik dan BBM. Dengan semakin mahalnya bahan bakar, energi dan isu lingkungan membuat pompa Hidram semakin relevan.
---------------------
Sesuai hukum gravitasi, air selalu mengalir dari tempat tinggi menuju yang lebih tempat rendah. Sepertinya mustahil kalau harus menaikkan air dari sumber atau alirannya menuju tempat yang lebih tinggi, tanpa bantuan energi listrik atau bahan bakar minyak (BBM).
Tetapi apabila suatu ketika Anda berkunjung ke perkebunan teh di Purwakarta-Jawa Barat atau perkebunan jambu air di Singorojo, Kendal-Jawa Tengah, Anda akan melihat bagaimana air dialirkan dari sungai yang berada di hilir, naik mendaki perbukitan dengan selisih ketinggian hingga puluhan meter, yang berjarak ratusan meter, antara rumah pompa dengan tandon air di puncak bukit. Semua itu digerakkan oleh sebuah pompa, hebatnya lagi pompa itu tidak digerakkan oleh motor listrik atau motor bakar dengan BBM.
Perempuan di Blok-blok Perkebunan
Oleh : Pratomo, SP *)
Suwarga nunut, Neraka katut. Mungkin kiasan itu cocok menggambarkan kehidupan perempuan-perempuan di sekitar wilayah perkebunan. Terjemahan bebasnya adalah: Jika dalam kondisi enak (surga) perempuan boleh nunut (membonceng), kalau yang dinunuti (laki-laki) memperbolehkan. Tapi kalau dalam kondisi sengsara (neraka), perempuan mau nggak mau, pasti harus ikut (katut).
_______________
Sebelum menelaah kehidupan kaum perempuan di sekitar wilayah perkebunan, ada baiknya kita masuk terlebih dahulu ke wilayah etika yang mendasari suatu pembangunan budaya dalam masyarakat. Mengacu pada Carol Gilligan pencetus etika kepedulian (ethic of care) -tokoh feminis tahun 1970, di dalam bukunya Different Voice, menyatakan bahwa perempuan memiliki etika yang berbeda dari pria. Etika pria adalah etika yang secara rasional di dasarkan pada penetapan hak dan kewajiban. Etika pria tersebut ditujukan untuk membentuk "subjek yang otonom", yaitu subyek yang mandiri dalam berfikir dan bertindak mengambil keputusan sendiri tanpa didikte oleh orang lain. Karena itulah etika pria disebut etika keadilan.
Masih dalam buku yang sama, dinyatakan oleh Gilligan, karena perempuan bisa hamil dan melahirkan anak, maka perempuanlah yang dianggap harus membesarkan anak, disinilah terbukti bahwa etika keadilan yang didasarkan pada "hak dan kewajiban" tidak cocok untuk perempuan. Karena mengandung, melahirkan, menyusui dan membesarkan anak bukan soal "hak dan kewajiban", melainkan soal "kepedulian". Sejak pernyataan Gilligan itulah etika kepedulian mulai mendapat pengikut, karena di dalam etika kepedulian-lah terdapat: keadilan. (Donny Danardono, 2009).
Kamis, 26 Maret 2009
Alat-alat Pengering Energi Matahari Sederhana
1. Pengering Energi Matahari Sederhana
Solar Tunnel Driyer, Pengering Pangan Efisien dan Higenis
Produk pangan kita yang diproses dengan cara dikeringkan -beras, palawija, ikan asin, manisan buah- masih jauh dari impian produk pangan yang memenuhi standar pengolahan pangan yang aman dan higenis. Sebuah teknologi pengeringan bertenaga matahari, menyediakan peluang untuk meraih impian keamanan pangan -food safety- tersebut.
Namanya Solar Tunnel Driyer.
--*****---
Peraturan keamanan pangan dunia sudah semakin banyak diratifikasi dan diterapkan secara penuh oleh negara-negara yang peduli terhadap keamanan pangan untuk rakyatnya. Di Indonesia standar keamanan pangan masih diterapkan secara sporadis oleh industri pangan besar. Pengolahan pangan pada skala rakyat -penyuplai pangan terbesar- boleh dikata mengabaikan standar keamanan pangan. Ini terjadi karena "peradaban pangan" kita memang masih sampai pada tahap itu. Akibatnya saat produk pangan kita akan diekspor ke luar negeri banyak yang dikembalikan karena tidak memenuhi standar keamanan pangan. Berita buruk ini akan bertambah apabila pasar bebas sudah dimulai, produk asing dengan standar kemanan pangan masuk, habislah daya saing kita.